
Baru saja aku menghadiri pesta ulang tahun anak dari teman baikku. Singkat cerita, karena aku baru menerima kabar tersebut 1 hari sebelum acara diadakan aku tidak mendapatkan informasi yang tepat. Beberapa hari sebelumnya, ia sebenarnya telah mengirimkan undangan lewat e-mail. Namun aku tidak menerimanya karena sedang berada di hutan untuk mengikuti acara outbound. Dengan keadaan yang sangat lelah, aku menerima informasi lewat telepon (di mana aku sangat lemah dalam hal menerima informasi secara audial/lewat suara). Bahkan malam harinya aku konfirmasi lagi tentang waktu dan tempatnya.
Akhirnya aku mendatangi acara tersebut. Sebenarnya aku mendatangi dalam kondisi ‘disempatkan datang’, karena setelah itu ada acara rutin futsal mingguan di mana aku harus sebisa mungkin datang. Akhirnya aku datang dengan berkostum kaos oblong, celana pendek sepanjang lutut dan sandal japit dengan pemikiran pesta yang diadakan adalah pesta kecil-kecilan bersama teman-teman sendiri. Bayanganku tentang pesta ulang tahun dari anak berumur 1 tahun pastilah pesta yang seperti itu. Namun, ternyata semuanya salah! Seluruh orang yang hadir mengenakan pakaian formal dan bahkan para wanita mengenakan gaun.
Kontan saja aku langsung kebingungan dan sempat memikirkan untuk pulang saja. Terus terang aku tidak bisa berpikir jernih. Untung saja jika tidak ditarik untuk masuk oleh pacarku, aku pasti sudah pulang. Akhirnya aku mengikuti acara, dan sebelum sesi foto bersama aku langsung kabur meninggalkan acara. Pikirku, daripada momen ini ‘diabadikan’ sehingga apa yang kurasakan menjadi abadi, lebih baik aku melarikan diri saja. Segera aku berpamitan.
Namun, setelah peristiwa ini, aku berpikir, mengapa aku begitu malu? Bukankah jika kita tampil percaya diri juga orang akan menghormati kita. Bahkan sebenarnya temanku tidak keberatan sama sekali mengenai apa yang aku pakai. Bukankah aku masih mengenakan pakaian? Tapi aku tidak bisa melakukannya. Apakah aku termasuk orang yang mudah tidak percaya diri. Mungkin iya. Namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri untuk tampil percaya diri.
Namun setidaknya, ada suatu kesimpulan yang bisa aku dapatkan mengenai hal ini. Ternyata manusia butuh untuk tampil benar di mata orang lain. Dan ini adalah kebutuhan yang mendasar. Jadi jika Tuhan Yesus berkata bahwa kita adalah garam dan terang, yang berarti hidup kita berdampak bagi orang lain, serta Rasul Paulus yang berkata bahwa kita adalah suratan yang terbuka yang berarti hidup kita akan selalu dilihat orang, maka hal ini adalah karena memang kita diciptakan untuk tampil baik di hadapan orang lain.
Amsal 3:3-4 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.
Itulah mengapa Allah memberi tugas bagi manusia untuk selalu menjaga hidup, agar dapat dipandang baik di hadapan orang lain. Artinya, kita harus memiliki perilaku yang sopan dan pantas. Dan ini adalah mengenai tata krama yang membuat kita dapat diterima oleh suatu kelompok orang. Bahkan Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 9 bahwa ia pun menyesuaikan diri dengan siapa ia bergaul. Karena bagaimana kita di hadapan orang lain, menentukan bagaimana kita diterima oleh orang itu. Dan bagaimana kita diterima menentukan bagaimana kita berdampak bagi hidup orang itu.
Jadi, kita harus menjaga hidup dan diri kita agar kita dapat berdampak bagi hidup orang lain. Karena Allah menciptakan manusia dengan dua tugas utama, yaitu untuk berhubungan dengan Dia dan untuk berdampak bagi dunia. Mengenai hal ini telah dibahas di blog-blogku sebelumnya. Jadi, dalam menyikapi pandangan orang lain tentang kita, intinya bukan pada masalah penampilannya, tetapi kita harus ingat bahwa hidup kita dilihat orang lain, dan ada kemungkinan penilaian-penilaian yang dilontarkan. Dan karena kita mewakili Allah, maka kita tidak boleh sembarangan dalam melakukannya.





