- Ayat 18 berkata, “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.” Ini adalah cara pikir seorang pemenang. Rasul Paulus mengetahui bahwa hidupnya tidak tergantung upah. Ia tidak melakukan sesuatu berdasarkan sebuah upah. Ia melakukannya karena ‘passion’ atau kerinduannya. Ada berapa banyak orang yang melakukan sesuatu atas dasar dijanjikan hadiah atau reward. Orang tipe ini tidak akan memberikan yang maksimal dalam kehidupannya.
Ayat 20-23 berkata bahwa dalam pekerjaannya, Rasul Paulus ‘melakukan segala cara‘ agar tujuannya berhasil. Meskipun agak kontroversial bagi sebagian orang (misalnya kaum Yahudi), namun itu bukan cara yang ilegal. Ia menjadi orang Yahudi saat ia bertemu dengan orang Yahudi, bahkan ia adalah seorang Sanhedrin (golongan Elit orang Farisi) yang paling taat. Dan saat ia bertemu dengan orang yang tidak terikat hukum Taurat, ia juga berlaku demikian, meskipun tetap berada di bawah peraturan Allah. Semuanya agar tujuannya untuk memenangkan jiwa-jiwa dapat tercapai.- Bagaimana caranya sehingga ia dapat melakukan sebuah pekerjaan luar biasa seperti itu? Ayat 27 berkata bahwa ia melatih tubuhnya dan menguasainya seluruhnya, supaya tidak didapati ada cacat dan cela yang ia lakukan. Bukankah itu yang Daniel lakukan sehingga ia dapat menjadi penasehat yang sukses selama 4 masa pemerintahan Raja Media dan Persia? Tidak ada cacat dan cela yang dapat ditemukan dalam dirinya selain kesalehannya. Dalam Versi The Message (MSG) dikatakan “Staying alert and in top condition..” serta “Not caught napping…”. Hal ini berarti ia selalu berjaga untuk tidak memiliki waktu bersantai sehingga ia dapat menjaga kondisinya seperti seorang petinju yang siap naik ring (Versi Amplified, AMP).
- Dan ingat bahwa kita adalah terang. Tuhan Yesus berkata bahwa jika terang itu bercahaya, tempatnya adalah di atas, bukan ditaruh di bawah gantang. Jika orang di sekeliling kita mengeluh betapa gelap kehidupannya, maka jangan salahkan kegelapannya, tetapi salahkan terangnya. Berapa banyak kita yang tidak menjaga terang hidup kita?
Roma 11:29 berkata bahwa Allah tidak pernah menyesali kasih karunia dan panggilanNya dalam hidup seseorang. Termasuk kita! Berapa banyak di antara kita sedang menyia-nyiakan tiap kasih karunia yang Tuhan telah berikan dengan tidak menjadi orang yang menjawab panggilan Tuhan dan sibuk dengan urusan dan kehidupan kita? Padahal hanya dengan memenuhi panggilanNya, maka kesuksesan kita menjadi kesuksesan yang kekal dan berbobot.
(Gambar dari mlblogs.com dan falbepublishing.com)
Pages: 1 2







Catatan Tentang Kesuksesan – The Leipzic Way
[…] dalam blog saya. Kedua yang tidak kalah penting adalah konsistensi, yang juga sudah pernah saya bahas sebelumnya. Konsistensi bukan berarti terus menerus berhasil melakukan sesuatu. Tapi terus menerus bangkit […]
Kesuksesan Versi Bunda Theresa – The Leipzic Way
[…] dalam blog saya. Kedua yang tidak kalah penting adalah konsistensi, yang juga sudah pernah saya bahas sebelumnya. Konsistensi bukan berarti terus menerus berhasil melakukan sesuatu. Tapi terus menerus bangkit […]