Itulah mengapa, prinsipnya adalah “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” Artinya, kesetiaan adalah kunci. Jika kita bertekun, mahkotanya adalah memerintah dengan Dia. (Baca Wahyu 22:5) Bahkan kesetiaan adalah natur atau sifat Allah.
Lebih lanjut, Rasul Paulus memberikan perumpamaan tentang dua macam perabot. “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” Namun perabot yang dipakai untuk maksud yang kurang mulia pun bisa naik level. Yaitu dengan cara menyucikan dirinya.
Bagaimana caranya? “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Nafsu orang muda harus dilawan dengan mengejar keadilan, kesetiaan, kasih dan damai dan secara bersama-sama. Nafsu orang muda di sini berbicara tentang nafsu untuk memperoleh segala sesuatu secara instan. Bukankah itu hasrat orang-orang muda? Padahal kesetiaan adalah kunci!
Seringkali kita mencari hal-hal yang muluk-muluk untuk menuju kesuksesan. Padahal kuncinya sangat sederhana. Jika yang sederhana saja tidak bisa kita lakukan, bagaimana mau melakukan yang rumit? Untungya, kuncinya adalah hal yang sederhana. Jadi, maukah kita?
(Gambar dari pauluswinarto.com)
Pages: 1 2





